Sudah lebih dari hitungan jari, saya selalu mengatakan “iya” kepada pimpinan, meskipun di dalam hati saya berkata “tidak”. Hal yang serupa pasti pernah dirasakan oleh kebanyakan orang, terlebih yang baru saja memulai perjalanan karirnya dalam sebuah organisasi atau perusahaan.
Bukan karena saya tidak mau bekerja keras, ataupun karena saya malas. Namun, sedari awal saya sudah menanamkan pada diri saya bahwa, permintaan pimpinan adalah tolak ukur dari keberhasilan pekerjaan saya. Apabila, saya dapat menyanggupi dan memenuhi ekspektasi pimpinan, pekerjaan saya dapat dikatakan berhasil atau mission completed. Sehingga, apapun pekerjaan yang diberikan saya harus selesaikan ataupun sanggupi.
Untuk waktu yang cukup lama, pola pikir saya itu adalah bentuk profesionalisme yang paling tinggi.
Namun, saya salah.
Ketika “Iya” Mulai Terasa Mahal
Momen di mana saya menyadari bahwa kata “iya” dan “siap” tidak selalu berakhir baik, adalah ketika pimpinan meminta saya untuk mengerjakan sesuatu di luar kapasitas saya pada saat itu. Di saat yang bersamaan, saya memahami dan mengenali keterbatasan saya sendiri, sehingga saya sudah tahu sedari awal bahwa hasilnya tidak akan optimal. Yaaa…seperti biasa, kata “iya” yang terucap dari mulut saya. permintaan tersebut saya kerjakan dan saya selesaikan.
Dan..hasilnya? Ternyata tidak sesuai dengan apa yang pimpinan saya harapkan. Pimpinan pun kecewa. Dan saya pun juga kecewa pada diri sendiri. Dan yang paling membuat saya sakit adalah, saya sudah memperkirakan hal ini terjadi sebelumnya, dan sebetulnya bisa dihindari apabila saya mengatakan yang sejujurnya dari awal.
Kejadian tersebut membawa saya berpikir “Sebenarnya, siapa yang paling dirugikan jika saya terus berkata iya?”.
Jawabannya…
Mengapa Kita Susah Berkata Tidak ke Pimpinan
Kalau kamu bekerja di lingkungan hierarkis, kamu pasti bisa paham dengan perasaan ini.
Rasa janggal di hati yang sulit dijelaskan ketika harus menolak permintaan pimpinan. Rasanya campur aduk, seperti tidak menghormati dan tidak loyal. Seperti merasa gagal sendiri, dan merasa seperti sedang mempermasalahkan sesuatu yang seharusnya tidak dipermasalahkan.
Merasa belum kuat untuk mengatakan tidak karena posisi baru sebagai seseorang young professional.
Dan di sinilah jebakan itu bekerja.
Ketika kamu terus menerus menyanggupi permintaan tanpa filter, tanpa jujur soal kapasitas yang kamu miliki, atau bahkan soal apakah permintaan tersebut hal yang realistis? Di saat itu lah kamu bukan sedang menjadi karyawan yang baik. Kamu sedang membangun ekspektasi tinggi pimpinan kamu yang tidak bisa kamu penuhi dalam jangka Panjang.
Yang Pimpinan Sebenarnya Butuhkan
Ini yang saya pelajari:
Pimpinan yang baik tidak butuh kamu yang selalu berkata “iya”, mereka butuh kamu yang berkata jujur.
Sebagai seorang pemimpin, mereka butuh mengetahui keadaan yang sebenarnya, apakah target atau permintaan tersebut realistis atau tidak. Karena, mereka pun ingin hasil yang terbaik. Sehingga, sebelum pekerjaan tersebut menjadi berantakan hasilnya, pimpinan butuh mengetahui apabila ada cara lain yang lebih baik untuk mencapai tujuan tersebut.
Informasi tersebut jauh jauh jauuh lebih berharga dari sebuah “iya” yang kosong.
Dan percayalah, pemimpin yang baik akan jauh lebih menghargai karyawannya yang mengedepankan kejujuran daripada kepatuhan yang tidak berarti.
Cara Menolak Tanpa Benar-benar Menolak
Ini bukan soal berani berkata “tidak” secara harafiah. Ini soal bagaimana kamu mengemas kejujuranmu dengan cara yang tetap menghormati, professional, dan solutif.
Beberapa kalimat yang saya pelajari dan mulai saya gunakan adalah
Ketika kamu memahami kapasitas kamu, dan menyadari bahwa itu di luar kapasitas kamu, kamu bisa berkata:
“Bapak/Ibu, saat ini saya sedang menyelesaikan (X). Kalau saya sembari mengerjakan (Y) juga, saya khawatir hasilnya tidak akan optimal. Apakah saya boleh kerjakan (Y) setelah (X) selesai, atau adakah prioritas yang perlu saya sesuaikan?”
Ketika kamu tidak yakin dengan pendekatannya, kamu bisa mengatakan:
“Apakah saya boleh sampaikan sesuatu sebelum berlanjut membahas hal berikutnya? Saya ingin memastikan saya sudah aligned dengan Bapak/Ibu sehingga hasil sesuai dengan ekspektasi Bapak/Ibu”
Ketika permintaan tidak realistis, kamu boleh mengatakan:
“Saya ingin memastikan ini bisa selesai dengan baik. Dengan timeline yang ada, ada beberapa hal yang mungkin perlu saya diskusikan terlebih dahulu dengan Bapak/Ibu.”
Iya yang Berkualitas Vs. Iya yang Kosong
Di sini, saya bukan ingin mengajak kalian untuk mulai berani menolak semua permintaan pimpinan. Sama sekali bukan.
Yang saya tekankan dalam hal ini adalah, kita harus bisa membedakan mana iya yang berkualitas dan mana iya yang kosong.
Iya yang berkualitas adalah ketika kamu bilang iya karena kamu memang memiliki kapasitas tersebut, kamu memang mau, dan kamu memang yakin hasilnya akan baik. Ketiga hal tersebut berdiri secara kesatuan, bukan berdiri sendiri. Iya ini yang akan membangun kepercayaan.
Iya yang kosong adalah ketika kamu bilang iya hanya karena sungkan atau tidak enak untuk bilang hal lain. Iya ini mungkin pelan, namun juga pelan-pelan bisa mengikis kepercayaan, dan mengukur kredibilitasmu. Karena orang akan mulai mempelajari bahwa iya-mu tidak selalu bisa dipegang.
Pekerja yang baik dan layak untuk mendapatkan rispek adalah pekerja yang di dalam dunia kerja tahu kapan harus berkata iya, kapan harus bernegosiasi, dan kapan harus dengan sopan menyampaikan ada alternatif cara yang lebih baik.
Mulai Hari Ini
Kalau sekarang kamu masih berada di awal karir, atau bahkan sudah cukup lama bekerja namun masih mengalami struggle dengan ini, satu hal yang bisa kamu mulai dari hari ini:
Sebelum mengatakan iya kepada pimpinan untuk permintaan berikutnya, kamu harus bertanya dulu pada dirimu sendiri:
Apakah iya ini jujur? Apakah iya ini membawa manfaat atau justru bahaya?
Karena pada akhirnya, karir yang kuat bukan dibangun dari berapa kali kamu bilang iya. Namun dari seberapa bisa kamu menghasilkan kepercayaan dari orang atas apa yang kamu ucapkan dan kamu lakukan, termasuk iya-mu tadi.