MASIGNALPHA102
8411406643491109227

4 Pelajaran Berharga Interview di Salah Satu MBB (McKinsey, BCG, Bain)

4 Pelajaran Berharga Interview di Salah Satu MBB (McKinsey, BCG, Bain)
7/10/2021
Pengalaman wawancara di salah satu perusahaan MBB (McKinsey, BCG, Bain)

Bekerja di perusahaan konsultasi manajemen kelas kakap seperti MBB (McKinsey, Boston Consulting Group, dan Bain) atau Big 4 (Deloitte, KPMG, Ernest & Young, dan PwC) sering sekali dianggap sebagai high profile job dan menjadi incaran banyak orang, termasuk mereka yang masih berstatus sebagai mahasiswa.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan tersebut menyodorkan karyawannya dengan gaji dan fasilitas yang hampir tidak bisa ditolak oleh kebanyakan orang.

Selain itu, pekerjaan menantang ini kerap diasosiasikan dengan pekerjaan bagi orang pintar dan berkelas. Learning curve yang curam dan eksponensial juga menjadi beberapa alasan tersendiri bagi banyak orang untuk mengejar posisi di perusahaan tersebut.

Berbagai benefit tersebut tentu tidak diperoleh semudah menjentik ibu jari. Proses rekrutmennya sangat selektif, dipenuhi oleh kandidat brilian dengan dedikasi yang bukan main.

Sebagai ilustrasi, McKinsey mengumumkan menerima lebih dari jutaan lamaran tiap tahunnya, dan hanya menerima kurang dari 1%. Bahkan MIT saja yang notabenenya merupakan kampus terbaik sedunia, memiliki acceptance rate di angka 6,2%.

Ini menandakan bahwa McKinsey hampir 6 kali lebih ketat dibandingkan berkuliah di kampus nomor wahid sedunia menurut QS Ranking.

Berdasarkan informasi dari website perusahaan MBB, setidaknya ada 3 tahapan seleksi meliputi seleksi berkas, problem solving dan case interview, serta experience interview.

Selain pertanyaannya yang susah dan membutuhkan daya analisis yang tinggi, proses wawancara perusahaan blue chip management consulting dilakukan dalam full bahasa Inggris.

Pada tulisan kali ini, saya ingin membagikan pengalaman pribadi ketika mengikuti wawancara untuk posisi mahasiswa (baca: magang alias internship) di salah satu perusahaan MBB.

Program magang tersebut berdurasi selama 3 bulan dengan sistem kerja full WFH. Hanya berbekal keberanian, saya benar-benar nothing to lose.

Berharap boleh, namun jangan terobsesi. Setidaknya itulah pelajaran yang saya dapatkan dalam beberapa bulan terakhir ketika mendaftar magang ke 50+ perusahaan, dan hanya 1 kali berhasil menembus tahap wawancara (itu pun ditolak).

Selama itu pula saya kembali memperbaharui resume, terus belajar hal baru dan mencari peluang baru, serta mengerjakan beberapa projek (termasuk menulis di blog ini).

Disertai rasa syukur, akhirnya saya berhasil melewati seleksi CV dan mendapatkan panggilan interview pada salah satu perusahaan MBB. Kaget bukan main!

Wawancara yang dimaksud di sini adalah gabungan antara experience interview dan case interview dengan total selama 30-35 menit.

Undangan experience interview dan case interview di salah satu perusahaan MBB (McKinsey, BCG, Bain)
Undangan interview di salah satu perusahaan MBB (klik kanan untuk memperbesar)

Kalau ditanya bagaimana rasanya, saya akan lantang menjawab: nano-nano! Di satu sisi, siapa sih yang ngga senang? Tapi... paniknya bukan main! Kebetulan saya berasal dari jurusan selain bisnis dan manajemen sehingga harus belajar ekstra mulai dari belajar di Coursera dan mengikuti lomba business case.

Kembali ke cerita. Kondisi panik saat itu diperparah karena undangan wawancara yang literally dikirimkan H-1! Sebelumnya saya belum nyicil persiapan interview karena nggak expect bakalan dipanggil.

Untungnya saya memiliki alokasi waktu yang fleksibel untuk mengerjakan rutinitas saya (baca: ngelab di kampus). Alhasil, saya bisa mengalokasikan sepanjang hari tersebut untuk persiapan.

Beberapa minggu setelah proses interview, saya mendapatkan email dengan kalimat pembukaan menggunakan kata "Thank You". Wah, udah kebaca nih. Saya sudah tahu hasilnya bahkan sebelum membuka email tersebut.

Intinya, saya ditolak. Haha.

Sedih? Iya, ada sedihnya (walaupun cuma sedikit sih, toh saya nggak punya ekspektasi terlalu tinggi). Dan saya yakin bahwa Tuhan selalu tahu mana yang terbaik untuk kita.

Setelah kembali kondusif, saya mencoba mengingat kembali wawancara yang berlangsung sehabis maghrib itu, sembari mengidentifikasi bagian mana yang telah saya lakukan dengan benar dan mana yang mungkin menjadi alasan dibalik penolakan.

Harapannya, semoga saya dan kamu yang membaca blogpost ini bisa belajar dari pengalaman tersebut sehingga bisa melakukan persiapan yang lebih matang lagi.

#1 Mengabaikan Experience Interview

Sebagai orang yang berlatar belakang nonbisnis, saya benar-benar khawatir dengan case interview. Pasalnya, saya pernah membaca dari beberapa sumber bahwa problem solving dan case interview di perusahaan MBB sangatlah susah.

Dari hasil Googling, saya menemukan tipikal pertanyaannya kurang lebih seperti ini:

Perkirakan jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh Uni Eropa selama setahun!

Pas bacanya langsung panik dong! Hahaha.

Alhasil, saya menghabiskan hampir 10 jam, atau 83% waktu yang saya miliki, untuk mempelajari case interview. Saya bahkan mengerjakan "tugas" tentang market sizing, yang diberikan oleh seorang teman yang telah lebih dahulu diterima pada program yang sama, dengan harapan bisa mendapatkan insight.

Setelah mengalami interview langsung, saya sampai pada kesimpulan bahwa alokasi waktu untuk case interview yang saya lakukan terlalu berlebihan. Saya melakukannya terlalu jauh dan... kacaunya, saya malah tidak fokus membangun kerangka berpikir dan business acumen.

Don't get me wrong. Saya tidak mengakatakan case test itu tidak penting. Justru sebaliknya, saya ingin mengejawantahkan bahwa persiapan case interview tidak bisa dilakukan H-1. Success does not come overnight.

Dan ini yang paling penting... Kalau kasusnya memang terlanjur H-1 seperti yang saya alami, sebaiknya tidak terlena dengan case study sehingga melupakan experience interview.

Karena wawancara di perusahaan management consulting seperti McKinsey, BCG, atau Bain tidak hanya tentang case unterview. Yup, experience interview juga penting.

Kembali ke cerita saya. Saat itu saya hanya mengalokasikan 2 dari 12 jam untuk mempersiapkan experience interview, itu pun cuma nonton YouTube doang (plus buru-buru pula).

Hadeuh, ibarat main bola udah injury time!

Dan hasilnya, saya tidak bisa maksimal ketika menjawab pertanyaan "ceritakan diri Anda" dan "ceritakan motivasi Anda".

Padahal, tiga menit pertama adalah waktu yang paling berharga untuk mendapatkan atensi rekruter.

Tiga menit pertama adalah pembuka sekaligus penentu alur wawancara.

Tiga menit pertama adalah kesempatan yang tidak akan pernah datang kembali. 

#2 Menatap Mata Lawan Bicara yang Ada di Layar Laptop

Kondisi pandemi memaksa kita untuk serba virtual. Dan sepertinya, saya sedikit lupa akan hal tersebut.

Sebelum pandemi, sudah menjadi kebiasaan saya untuk menjaga eye contact dengan menatap langsung mata audiens atau lawan bicara. Celakanya, kebiasaan ini terbawa ketika ngezoom.

Ketika melakukan wawancara tersebut, saya malah menatap mata rekruter yang ada di layar. Padahal, seharusnya saya menjaga pandangan tertuju pada kamera laptop, seolah-olah sedang berbicara dengannya.

Saat kita menatap mata lawan bicara di layar, mereka melihat seolah-olah kita sedang sedikit menunduk. Hal tersebut bisa menimbulkan persepsi kurang percaya diri, atau bahkan dalam konteks tertentu bisa dianggap sedang membaca catatan.

#3 Terlalu Asyik Sendiri

Kesalahan ketiga ini konteksnya dalam case interview.

Case interview sendiri dimaksudkan untuk melihat kemampuan analisis, problem solving, dan business acumen dari kandidat konsultan.

Yang saya dengar dari beberapa sumber, case interview untuk entry-level di perusahaan management consulting seperti MBB atau Big 4 biasanya menggunakan kasus market sizing atau revenue.

Contohnya pertanyaannya kurang lebih seperti ini:

  • Perkirakan market size dari lampu bohlam di Indonesia selama setahun!
  • Perkirakan revenue yang dihasilkan oleh GoTo dari sumber Tokopedia selama setahun!

Ketika melakukan case interview, menjawab secara benar saja tidak cukup. Lebih dari itu, kandidat diminta untuk bisa menangkap dan merangkum informasi, memvalidasi dan memecah akar masalah, menyampaikan hasil analisis, serta mengkomunikasikan semuanya kepada rekruter.

Semuanya dilakukan dengan terstruktur, sistematis, logis, dan mudah dipahami.

Kesalahan yang saya lakukan waktu itu adalah hanya menyampaikan analisis dan hasil secara satu arah. Saat itu saya mengira bahwa hasil yang disampaikan harus murni dari gagasan dan analisis kita, tanpa harus bertanya atau memvalidasi sesuatu kepada rekruter.

Padahal, rekruter pada case interview sebenarnya bertindak sebagai mock-up dari klien dan projek sungguhan. Dalam projek sungguhan, tentunya keseluruhan proses harus dikomunikasikan dua arah.

Untuk lebih jelasnya, silakan tonton video mock-up consulting interview yang banyak bertebaran di YouTube. Dari sana terlihat sekali komunikasi dua arah, dimana kandidat proaktif berdiskusi dan memecahkan case bersama rekruter.

#4 Mengatakan atau Menanyakan Hal yang Tidak Perlu

Ketika wawancara berakhir, kandidat kerap diberikan kesempatan untuk bertanya.

Gunakan kesempatan ini secara bijaksana untuk menunjukkan minat dan ketertarikan kamu terhadap posisi yang ingin dilamar.

Namun hindari membocorkan informasi yang berkaitan dengan usia, agama, ras, status pernikahan, dan informasi pribadi lainnya yang tidak penting. Alih-alih menambah poin plus, bisa jadi hal tersebut malah menjadi boomerang bagi kita sendiri.

Sebagai contoh, saat wawancara tersebut saya bertanya, "Apakah tidak masalah jika saya lulus sebelum program magang ini selesai?"

Ketika mendengar pertanyaan tersebut, rekruternya terlihat sedikit kaget dan langsung mengetik sesuatu. Beliau menanyakan kembali, "Apakah kamu mahasiswa tingkat akhir?".

Saya mengiyakan, dan beliau menjawab lagi.

"Program magang ini bisa diikuti oleh mahasiswa tahun kedua sampai keempat, tapi kami lebih mengutamakan tahun kedua dan ketiga."

BOOM! Hahaha.

Penutup...

Tak ada salahnya mencoba sesuatu, karena rasa sesal saat gagal akan lebih ringan daripada ketika tidak mencoba sama sekali.

Dalam bukunya yang begitu tersohor, The Seven Habits of Highly Effective People, Stephen Covey menekankan bahwa suatu kesia-siaan untuk berfokus pada hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Kesuksesan akan datang ketika persiapan bertemu dengan kesempatan. Kesempatan adalah sesuatu yang diluar kendali kita, tetapi persiapan berbeda. Oleh karena itu, sambil menunggu kesempatan datang kita sepatutnya melakukan persiapan.

Khusus bidang management consulting, ada dua channel YouTube yang sangat bermanfaat untuk kamu yang tertarik mempersiapkan karir di bidang ini. Sebenarnya masih ada banyak lagi, tapi saya hanya memasukkan dua saja. Catatan: bukan endorse yah! Hehe

  • Management Consulted, isinya semua hal tentang consulting. Di sini kamu bisa belajar mock-up interview dan tipe pertanyaan yang biasa ditanyakan saat case interview di McKinsey, BCG, atau Bain.
  • Firm Learning, isinya tentang tips dan insight karir sebagai konsultan. Pemiliknya, Heinrich, merupakan ex-McKinsey Jerman yang sekarang jadi C-level perusahaan start-up di sana.

Dan saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah quote yang dalam maknanya.

Gagal mempersiapkan sesuatu sama saja dengan mempersiapkan kegagalan. - Benjamin Franklin

Yusuf Noer Arifin

Seorang mahasiswa sekaligus blogger yang menaruh minat pada kreativitas, pendidikan, musik, dan blogging. Untuk keperluan bisnis, silakan kunjungi halaman kontak.

Terima kasih sudah berkunjung di website ini.

Jika berkenan, mohon berkomentar yang RELEVAN dengan bahasa yang santun.

Semua komentar selalu saya baca meskipun tidak semuanya dibalas. Harap maklum :)